Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Seni Mengolah Luka

Gambar
Luka itu sebuah kepastian, tapi menderita karenanya adalah sebuah pilihan. Setiap manusia pasti pernah tergores. Namun, apakah semesta menyediakan panggung nominasi untuk menentukan siapa yang paling tersakiti? Tentu tidak. Rasa sakit itu subjektif. Ia tidak diukur dari seberapa dalam sayatannya, tapi dari seni si pemilik tubuh dalam meresponsnya. Seringkali, kita menganggap luka batin sebagai musuh. Maka muncullah defense mechanism klasik bernama Denial . Kita berlari. Kita menyapu pecahan beling itu ke bawah karpet, berharap tidak ada yang menginjaknya. Kita membohongi diri sendiri bahwa "aku baik-baik saja" . Padahal, luka yang diabaikan tidak akan sembuh, ia hanya akan membusuk . Lantas, apa yang harus dilakukan? Jawabannya terdengar klise namun berat, yaitu hadapi . Validasi rasa sakit itu. Menangislah. Hancurlah. Tidak ada yang melarangmu untuk jatuh. Tapi, jangan lupa pasang alarm . Berikan tenggat waktu pada kesedihanmu. Jangan biarkan ia menjadi tuan rumah yang men...

The Art of Interaction

Gambar
Aku adalah definisi orang yang selalu menghindari interaksi dengan orang asing. Bagiku, berbasa-basi dengan seseorang yang tidak terlalu kukenal adalah aktivitas yang paling cepat menguras baterai sosial. Aku selalu harus berpura-pura, sibuk memikirkan ‘topeng’ mana yang harus kupakai agar mereka mendapatkan first impression yang baik tentangku. Melelahkan, bukan? Namun kemarin, semesta seolah memaksaku keluar dari cangkang itu. Tuntutan tugas sebagai Penanggung Jawab Delegasi di acara Campus Fair sekolahku tidak memberiku pilihan lain. Awalnya, aku naif. Kupikir tugasku hanya sebatas menghubungi teman-teman lama alumni untuk mewakili kampus mereka. Oh, ternyata aku salah besar. Aku dihadapkan pada realita harus menghubungi banyak orang baru, yaitu para profesional di bidang marketing dan humas universitas untuk bernegosiasi agar mereka mau menjadi donatur di acara ini.  Rasanya aneh sekali harus berbasa-basi dengan orang yang jauh lebih tua dan formal. Aku harus menata setiap k...

Sisi Lain dari Orang yang Meninggalkan

Banyak orang yang sibuk membicarakan betapa sakitnya ditinggalkan dan betapa kejamnya pihak yang meninggalkan. Namun bagiku, justru orang yang meninggalkanlah yang sebenarnya menanggung luka yang mendalam, hingga ia memberanikan diri untuk pergi. Pergi adalah keputusan yang paling sehat yang pernah aku ambil.  Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ini menjadi hubungan terlama yang pernah kujalani, tentu saja karena ini adalah cinta pertamaku, dan mungkin baginya juga. Karena sama-sama pemula, hubungan kami rasanya penuh dengan 'remedial'. Kami belum berpengalaman tentang bagaimana memperlakukan pasangan, memahami isi kepala, hingga menciptakan rasa nyaman. Awalnya aku pikir kami sama-sama belajar. Tapi... ah, mungkin hanya aku? Ia kerap menjadikan ketidaktahuannya sebagai alasan, berdalih bahwa ia masih awam soal komitmen. Padahal, ini juga kali pertama bagiku, tetapi aku memilih untuk terus berusaha. Dulu, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku begitu yakin suatu hari na...