Seni Mengolah Luka
Luka itu sebuah kepastian, tapi menderita karenanya adalah sebuah pilihan. Setiap manusia pasti pernah tergores. Namun, apakah semesta menyediakan panggung nominasi untuk menentukan siapa yang paling tersakiti? Tentu tidak. Rasa sakit itu subjektif. Ia tidak diukur dari seberapa dalam sayatannya, tapi dari seni si pemilik tubuh dalam meresponsnya. Seringkali, kita menganggap luka batin sebagai musuh. Maka muncullah defense mechanism klasik bernama Denial . Kita berlari. Kita menyapu pecahan beling itu ke bawah karpet, berharap tidak ada yang menginjaknya. Kita membohongi diri sendiri bahwa "aku baik-baik saja" . Padahal, luka yang diabaikan tidak akan sembuh, ia hanya akan membusuk . Lantas, apa yang harus dilakukan? Jawabannya terdengar klise namun berat, yaitu hadapi . Validasi rasa sakit itu. Menangislah. Hancurlah. Tidak ada yang melarangmu untuk jatuh. Tapi, jangan lupa pasang alarm . Berikan tenggat waktu pada kesedihanmu. Jangan biarkan ia menjadi tuan rumah yang men...