The Art of Interaction
Aku adalah definisi orang yang selalu menghindari interaksi dengan orang asing. Bagiku, berbasa-basi dengan seseorang yang tidak terlalu kukenal adalah aktivitas yang paling cepat menguras baterai sosial. Aku selalu harus berpura-pura, sibuk memikirkan ‘topeng’ mana yang harus kupakai agar mereka mendapatkan first impression yang baik tentangku. Melelahkan, bukan?
Namun kemarin, semesta seolah memaksaku keluar dari cangkang itu. Tuntutan tugas sebagai Penanggung Jawab Delegasi di acara Campus Fair sekolahku tidak memberiku pilihan lain. Awalnya, aku naif. Kupikir tugasku hanya sebatas menghubungi teman-teman lama alumni untuk mewakili kampus mereka. Oh, ternyata aku salah besar. Aku dihadapkan pada realita harus menghubungi banyak orang baru, yaitu para profesional di bidang marketing dan humas universitas untuk bernegosiasi agar mereka mau menjadi donatur di acara ini.
Rasanya aneh sekali harus berbasa-basi dengan orang yang jauh lebih tua dan formal. Aku harus menata setiap kata agar terdengar sopan, penuh hormat, sekaligus persuasif. Aku harus bisa ‘menjual’ acara ini agar terlihat menggiurkan di mata mereka. Padahal, orang-orang terdekatku pasti tahu bahwa aku benci jualan, dan aku sangat payah dalam hal itu.
Tapi, prinsipku sederhana, ketika amanah sudah di tangan, aku akan menyelesaikannya dengan hasil maksimal, bagaimanapun caranya.
Apakah mulus? Tentu tidak. Diabaikan? Sering. Di-ghosting H-1 acara? Itu makanan sehari-hari. Tapi, apakah aku berhasil menaklukkan pekerjaan yang paling kuhindari ini? Bolehkah aku bilang berhasil? Karena nyatanya, aku sukses mengantongi jutaan rupiah dana investasi dari situ. Terima kasih, Sahra. Kali ini aku akui, skill negosiasimu ternyata boleh juga.
Namun, tugasku tidak berhenti saat dana masuk. Justru di situ beban mental yang sebenarnya dimulai. Aku tidak ingin dicap penipu setelah mereka menginvestasikan jutaan rupiah. Aku harus memastikan para donatur ini mendapatkan keuntungan setimpal. Pekerjaan ini benar-benar menguji emosi, mulai dari menghadapi perwakilan kampus yang telat, yang banyak request, hingga yang hobi komplain. Bagiku, ini bencana emosional. Pantas saja energiku rasanya terkuras habis di sini.
Akan tetapi, semua ketakutan itu seolah luruh saat acara dimulai.
Meskipun aku harus bolak-balik tanpa istirahat barang sedetik pun, ada kepuasan aneh yang menjalar. Aku memaksakan diri menjadi sosok ‘ekstrover dadakan’ di hadapan adik-adik kelasku. Aku menarik mereka ke booth universitas yang sepi, melempar jokes receh ala Gen Z agar mereka mau mampir.
Dan tahukah kamu? Ternyata itu seru. Berinteraksi dengan orang asing, melemparkan candaan, dan melihat mereka secara natural mengikuti arahanku, rasanya lelahku terbayar. Apalagi saat penjaga booth yang tadinya sepi itu berterima kasih padaku karena booth-nya jadi ramai. Padahal, itu sudah kewajibanku karena mereka adalah donatur, tapi ucapan terima kasih itu tetap terasa hangat.
Mengenakan jakun kebanggaan hari itu ternyata juga memancing banyak interaksi. Adik-adik kelas tak segan bertanya padaku tentang caraku belajar, tempat bimbel, bahkan hal absurd seperti zodiakku apa. Aku tidak tahu apa relevansinya, tapi tetap kujawab. Ada rasa deja vu yang kuat. Dulu, aku ada di posisi mereka, bertanya pada kakak-kakak kuliah untuk mencari arah. Sekarang, akulah yang menjadi navigasi bagi mereka.
Yang paling menyentuh adalah ketika notifikasi Instagram ku ramai oleh followers baru. Padahal, aku tidak membagikan username ku pada siapa pun hari itu. Berarti mereka mencarinya sendiri kan? Rasanya obrolanku benar-benar diterima. Belum lagi yang mengajak berfoto. Awalnya kukira mereka hanya ingin berfoto dengan jakun mentereng ini, jadi aku berniat melepaskannya. Tapi mereka menahanku, "Kita mau fotonya sama kakak, bukan cuma jakunnya." Lucu sekali, sekaligus mengharukan.
Dua hari yang chaos. Aku berlarian agar tepat sesuai rundown, tiba-tiba jadi fotografer dadakan, jadi MC booth, hingga jadi kakak curhat. Saking sibuknya bekerja di balik layar, aku bahkan tidak terlihat di foto-foto dump panitia hahaha. Tapi tak apa, hatiku penuh. Ternyata si introvert ini bisa juga bertahan di tengah hiruk-pikuk ribuan manusia.
Euforia acara memang sudah surut, tenda-tenda sudah dibongkar, dan kami para panitia sudah kembali ke rutinitas masing-masing. Namun anehnya, peranku rasanya belum benar-benar selesai. Sampai hari ini, ponselku masih sering bergetar oleh pesan masuk dari nomor-nomor asing adik kelas yang kutemui kemarin.

Komentar
Posting Komentar