Postingan

Opini - Politik dalam Hubungan

Gambar
Dulu, banyak temen-temenku yang heran kenapa aku bisa berantem sama pasanganku cuma karena politik. Tapi menurut aku persoalan politik itu bukan 'cuma' , politik itu segalanya di hidup ini.  Kalau ada yang bilang, "Politik ga harus dibawa ke topik orang pacaran" jelas aku ga setuju . Karena pacaran itu seharusnya obrolin semua hal yang terjadi di dunia ini. Misalnya, kamu pilih mie ayam atau bakso? kucing bisa masuk surga apa engga? atau apakah prabowo beneran cuma punya 1 bij— Yaa gitulah...pokoknya kalo isi obrolan di hubunganmu cuma cinta-cintaan ya percuma, ngapain jalin hubungan kosong? kalau semisal nanti hubungannya berakhir—dan kamu ga dapet apa-apa—lalu apa gunanya waktu yang terbuang kemarin? apa kamu puas hanya dengan panggilan sayang dan kata-kata manis itu? Aku juga pernah liat postingan " journaling ini sebelum punya pasangan" yang diposting oleh @lulanalife on Instagram. Salah satunya adalah journaling mengenai Political Views dan Social ...

Opini - Cantik atau Algoritma Licik?

Gambar
Kemarin, aku liat salah satu konten di TikTok yang beropini bahwa cancel culture tidak pernah benar-benar berhasil diterapkan di Indonesia semata-mata karena beauty privilege. Content creator itu menjadikan Julia a.k.a Jule sebagai contoh. Jadi, inti narasi yang dia bangun adalah, selama pelakunya punya daya tarik fisik yang memenuhi standar, kesalahan fatal apa pun pada akhirnya akan dimaafkan. Sejujurnya, narasi ini terkesan menyederhanakan kegagalan cancel culture hanya pada urusan beauty privilege.   Sebagai seseorang yang pernah membedah fenomena ini secara akademis di bawah bimbingan dosen ( ea ), rasanya kesimpulan itu tuh terlalu dibuat-buat, apalagi di videonya dia sama sekali tidak mencantumkan data dan argumen para ahli psikologis. Menyimpulkan bahwa gagalnya cancel culture murni karena beauty   privilege sama aja kaya mengabaikan betapa kompleksnya sosiologis dan literasi digital masyarakat kita ( ya meskipun... ). Faktor visual, atau yang dalam psikologi d...

Si Penjamu Luka

Gambar
Di mata dunia yang bising ini, aku sering kali hanya menjadi peran pendukung. Sosok yang dilabeli pendiam, pemalu, atau si kaku yang lingkup pertemanannya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Bagi mereka yang hanya melihat sekilas dari kejauhan, mungkin aku terlihat anti-sosial dan tidak asik diajak bicara. Aku tidak akan menyangkal atau menyalahkan asumsi itu. Mungkin mereka ada benarnya? Namun yang mereka tidak tahu, tembok itu ada bukan untuk mengurungku, tapi untuk menyaring siapa yang layak masuk. Aku bukan tidak bisa berteman. Aku hanya paham bahwa energiku terbatas. Bagiku, pertemanan bukanlah tentang kuantitas sorak-sorai, melainkan tentang kualitas kehadiran. Aku memilih dengan hati-hati siapa yang boleh duduk di ruang tamuku, karena tidak semua orang layak mendapatkan gelar 'teman' dariku. Namun, ketika seseorang sudah berhasil mendapatkan ' gelar'  itu dariku, aku pastikan satu hal, aku akan selalu ada. Aku akan menjadi penjamu paling setia setiap kali ia ...

Seni Mengolah Luka

Gambar
Luka itu sebuah kepastian, tapi menderita karenanya adalah sebuah pilihan. Setiap manusia pasti pernah tergores. Namun, apakah semesta menyediakan panggung nominasi untuk menentukan siapa yang paling tersakiti? Tentu tidak. Rasa sakit itu subjektif. Ia tidak diukur dari seberapa dalam sayatannya, tapi dari seni si pemilik tubuh dalam meresponsnya. Seringkali, kita menganggap luka batin sebagai musuh. Maka muncullah defense mechanism klasik bernama Denial . Kita berlari. Kita menyapu pecahan beling itu ke bawah karpet, berharap tidak ada yang menginjaknya. Kita membohongi diri sendiri bahwa "aku baik-baik saja" . Padahal, luka yang diabaikan tidak akan sembuh, ia hanya akan membusuk . Lantas, apa yang harus dilakukan? Jawabannya terdengar klise namun berat, yaitu hadapi . Validasi rasa sakit itu. Menangislah. Hancurlah. Tidak ada yang melarangmu untuk jatuh. Tapi, jangan lupa pasang alarm . Berikan tenggat waktu pada kesedihanmu. Jangan biarkan ia menjadi tuan rumah yang men...

The Art of Interaction

Gambar
Aku adalah definisi orang yang selalu menghindari interaksi dengan orang asing. Bagiku, berbasa-basi dengan seseorang yang tidak terlalu kukenal adalah aktivitas yang paling cepat menguras baterai sosial. Aku selalu harus berpura-pura, sibuk memikirkan ‘topeng’ mana yang harus kupakai agar mereka mendapatkan first impression yang baik tentangku. Melelahkan, bukan? Namun kemarin, semesta seolah memaksaku keluar dari cangkang itu. Tuntutan tugas sebagai Penanggung Jawab Delegasi di acara Campus Fair sekolahku tidak memberiku pilihan lain. Awalnya, aku naif. Kupikir tugasku hanya sebatas menghubungi teman-teman lama alumni untuk mewakili kampus mereka. Oh, ternyata aku salah besar. Aku dihadapkan pada realita harus menghubungi banyak orang baru, yaitu para profesional di bidang marketing dan humas universitas untuk bernegosiasi agar mereka mau menjadi donatur di acara ini.  Rasanya aneh sekali harus berbasa-basi dengan orang yang jauh lebih tua dan formal. Aku harus menata setiap k...

Sisi Lain dari Orang yang Meninggalkan

Banyak orang yang sibuk membicarakan betapa sakitnya ditinggalkan dan betapa kejamnya pihak yang meninggalkan. Namun bagiku, justru orang yang meninggalkanlah yang sebenarnya menanggung luka yang mendalam, hingga ia memberanikan diri untuk pergi. Pergi adalah keputusan yang paling sehat yang pernah aku ambil.  Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ini menjadi hubungan terlama yang pernah kujalani, tentu saja karena ini adalah cinta pertamaku, dan mungkin baginya juga. Karena sama-sama pemula, hubungan kami rasanya penuh dengan 'remedial'. Kami belum berpengalaman tentang bagaimana memperlakukan pasangan, memahami isi kepala, hingga menciptakan rasa nyaman. Awalnya aku pikir kami sama-sama belajar. Tapi... ah, mungkin hanya aku? Ia kerap menjadikan ketidaktahuannya sebagai alasan, berdalih bahwa ia masih awam soal komitmen. Padahal, ini juga kali pertama bagiku, tetapi aku memilih untuk terus berusaha. Dulu, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku begitu yakin suatu hari na...

Lolos pilihan pertama?!

Gambar
 Hi, sorry banget di skip 2 tahun oke sekarang aku cuma mau sedikit life update aja ya.... Btw cringe juga ya liat tulisan-tulisan sebelumnya, biasalah waktu itu masih anak SMA (anak kuliah berkata) HEHEHE yup, sekarang aku dah kuliah guys.... Alhamdulillah lulus di pilihan pertama UTBK dengan nilai rata-rata 682 dan nilai PM yang memalukan itu. KARENA KALO PM NYA GA ANJLOK HARUSNYA SIH BISA LEBIH YA.... Tapi aku maafkan PM karena aku UTBK hari pertama, jadi clueless banget ya... it's okey sahra Karena mau tinggi atau rendah PM nya tetep lolos pilihan 1 kan? Nah tapi kalian tau ga? pilihan 1 ku itu D3....  IYA kalian ga salah baca, aku taro D3 di pilihan 1, ya itu emang minat ku sih dan pilihan ini pun ditimbang dengan berpikir beberapa hari dan bahkan minta pendapat ke beberapa orang. Tapi oh tapi kalo ditanya alasan kenapa simpan D3 di pil 1 aku gatau mau jawab apa. Kaya? ya yaudah aku pilih ini karena aku mau? Seperti yang kita tau D3 ini sering kali direndahkan, dan sudah ...

Winaya

Gambar
 aku mau bagi sedikit sumber belajar yang paling sering aku pake. okay, here it goes! Pelajaran Hidup Sebagian besar wawasan dan pemikiran yang ada di otakku, dipengaruhi sama channel-channel keren di YouTube, kenapa aku pilih Youtube sebagai sumber belajar?, maybe bcs aku lebih betah liat video daripada membaca artikel, dan sambil ngelatih listening juga, karna channel yang aku tonton itu hampir semua channel luar. So, ini dia channel yang sering aku tonton! * klik fotonya, biar gak nge blur Aku gak bisa deskripsiin semua channel itu karna bingung juga mau mulai dari mana, tapi yang paling aku rekomendasiin itu channel Big Think , jadi kalo kalian kepo langsung cek aja ya!