Merapal Harap di Bawah Langit Kelabu
Daun yang menari-nari bersama angin, kini gugur menjadi abu yang menyayat batin, akar-akar yang memeluk bumi dengan kokoh, kini hangus dan roboh, ribuan satwa berlari tanpa arah, diusir oleh ego manusia yang tak pernah kalah. Kalimantan yang dikenal hijau itu kini berubah menjadi abu, begitu pula langit yang biru kini memutih kelabu. Udara yang biasanya segar kian memudar, dan sinar mentari yang selalu bersinar kini enggan memancar. Paru-paru yang dulu bernapas begitu segar, kini terbatuk menahan perih akibat bumi yang terbakar. Langit kelabu, kumohon tangiskanlah rasa sakitmu. Jatuhkanlah air matamu, agar napas yang tersengal di sana bisa bernapas lega seperti dulu. Biarkan rintikmu merengkuh dahan yang melepuh, dan mengobati luka rimba yang kini kian rapuh. Tangan-tangan penguasa bergerak terlalu lambat, kalah cepat oleh empati yang sekarat. Janji-janji kepedulian hanya menguap kosong bersama kepulan asap, membiarkan kehidupan berjuang sendiri dalam gelap...