Si Penjamu Luka
Di mata dunia yang bising ini, aku sering kali hanya menjadi peran pendukung. Sosok yang dilabeli pendiam, pemalu, atau si kaku yang lingkup pertemanannya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Bagi mereka yang hanya melihat sekilas dari kejauhan, mungkin aku terlihat anti-sosial dan tidak asik diajak bicara.
Aku tidak akan menyangkal atau menyalahkan asumsi itu. Mungkin mereka ada benarnya?
Namun yang mereka tidak tahu, tembok itu ada bukan untuk mengurungku, tapi untuk menyaring siapa yang layak masuk. Aku bukan tidak bisa berteman. Aku hanya paham bahwa energiku terbatas. Bagiku, pertemanan bukanlah tentang kuantitas sorak-sorai, melainkan tentang kualitas kehadiran. Aku memilih dengan hati-hati siapa yang boleh duduk di ruang tamuku, karena tidak semua orang layak mendapatkan gelar 'teman' dariku.
Namun, ketika seseorang sudah berhasil mendapatkan 'gelar' itu dariku, aku pastikan satu hal, aku akan selalu ada. Aku akan menjadi penjamu paling setia setiap kali ia datang mengetuk pintu, entah dengan perasaan senang, sedih, atau bahkan saat ia datang dengan kebingungan yang menyesakkan.
Seperti hari itu.
Aku menjamu sahabatku yang terlihat tidak seperti biasanya. Dari matanya, aku bisa melihat ada benang kusut tak beraturan di dalam kepalanya. Dan tak lama kemudian, peranku berubah. Aku berakhir duduk diam di ruang tunggu klinik yang dingin itu, menunggu berjam-jam lamanya dengan harapan semoga saat ia keluar nanti, benang kusut itu sudah sedikit tergulung rapi.
Namun, penyembuhan luka batin ternyata tidak seperti mengobati luka gores. Layaknya antibiotik, ia butuh waktu. Ia harus dikonsumsi berkali-kali untuk sembuh. Ruang tunggu itu pun perlahan berubah menjadi rutinitas baru di hidupnya, dan di hidupku.
Di sela-sela jadwal profesional itu, aku berusaha menempatkan diri sebagai Kotak P3K atau pertolongan pertama baginya sebelum ia sampai ke tangan ahli.
[28/1, 14.51] : thanks jga udah mau nganterin yaaa[28/1, 14.51] : mff ngerepotin
[28/1, 14.52] sahra: aman ajaa
[28/1, 14.52] sahra: kalo ada apa2 ke kamar ku aja ya
Kalian tahu? Kamarku kini telah bertransformasi menjadi saksi bisu. Ia menjadi tempat pengeluaran isi kepalanya yang berisik. Di sana, aku adalah penjamu yang mendengarkan, membiarkan ia menumpahkan segala racun di pikirannya, lalu mencoba menjadi wadah yang meracik racun itu menjadi obat penenang sementara.
Aku hadir di setiap jengkal proses penyembuhannya. Aku menanyakan progresnya, mendengarkan apa saja yang ia lakukan di ruang konsultasi itu. Ia tak takut melaporkan saran-saran profesional yang ia terima, dan aku? Aku siap menemaninya menjalani setiap challenge menuju kesembuhan itu.
Seperti siang ini.
[6/2, 12.27] : sahra ini dari psikolog ku[6/2, 12.27] : mungkin kalau nnti sore jdi ke danau smbil nulis blog bisa
[6/2, 12.28] sahra: yeyyy ayok
Dan, ya. Tulisan ini aku ketik tepat di sampingnya.
Ditemani semilir angin dan pemandangan air danau yang hijau di depan gedung perpustakaan yang menjulang tinggi ini, kami duduk bersisian. Masing-masing dengan isi kepalanya.
Progres ini berjalan perlahan namun pasti. Aku sudah menjamunya sejak bulan September tahun lalu, saat tanda-tanda itu baru muncul...
[16/9/2025, 07.51] sahra: btw r u okay[16/9/2025, 12.28] sahra: langsung ke klinik?
Dan aku berjanji akan selalu menemaninya sampai ia menemukan kembali titik kebahagiaannya.
Ternyata, merawat luka orang lain itu tidak membutuhkan kemampuan public speaking yang hebat atau menjadi motivator yang berisik. Yang dibutuhkan hanyalah ketenangan dan kemampuan untuk hadir sepenuhnya, menyerap rasa sakitnya tanpa ikut hancur.
Mungkin temanku memang sedikit. Tapi aku pastikan, tidak akan ada orang yang kusayang hancur sendirian. Akan kudengarkan jeritannya, dan akan kupeluk lukanya yang tak berani ia perlihatkan pada dunia.

Komentar
Posting Komentar