Opini - Cantik atau Algoritma Licik?


Kemarin, aku liat salah satu konten di TikTok yang beropini bahwa cancel culture tidak pernah benar-benar berhasil diterapkan di Indonesia semata-mata karena beauty privilege. Content creator itu menjadikan Julia a.k.a Jule sebagai contoh. Jadi, inti narasi yang dia bangun adalah, selama pelakunya punya daya tarik fisik yang memenuhi standar, kesalahan fatal apa pun pada akhirnya akan dimaafkan. Sejujurnya, narasi ini terkesan menyederhanakan kegagalan cancel culture hanya pada urusan beauty privilege. 

Sebagai seseorang yang pernah membedah fenomena ini secara akademis di bawah bimbingan dosen (ea), rasanya kesimpulan itu tuh terlalu dibuat-buat, apalagi di videonya dia sama sekali tidak mencantumkan data dan argumen para ahli psikologis. Menyimpulkan bahwa gagalnya cancel culture murni karena beauty privilege sama aja kaya mengabaikan betapa kompleksnya sosiologis dan literasi digital masyarakat kita (ya meskipun...).

Faktor visual, atau yang dalam psikologi dikenal sebagai Halo Effect (kecenderungan menilai karakter seseorang dari fisiknya), memang nyata adanya. Namun, menjadikannya sebagai tersangka tunggal atas matinya cancel culture adalah sebuah kekeliruan besar. Kalau kita mau membedahnya lebih dalam, fenomena ini sebenarnya sedang mempermainkan emosi manusia. Manusia memang cenderung tertarik dan menghabiskan lebih banyak waktu pada konten yang memancing emosinya. 

Kalau dipikir-pikir, kegagalan cancel culture ini sebenarnya disetir oleh hal-hal yang jauh lebih masif dari sekadar wajah yang good looking, contohnya: 

Algoritma Nggak Kenal Moral, Cuma Kenal Angka

Mari kita bicara realita digital. Media sosial kita dirancang dengan sistem yang memprioritaskan konten bermuatan emosi kuat. Lucunya (atau mirisnya), algoritma itu buta huruf. Sistem tidak peduli apakah ribuan komentar yang masuk itu isinya pujian setinggi langit atau hujatan pedas. Yang sistem baca cuma satu, yaitu interaksi.  

Bahkan, riset membuktikan kalau konten kontroversial justru memancing jauh lebih banyak komentar dan share dibanding konten yang netral. Jadi, hujatan dan amarah netizen itu ternyata punya "nilai tukar" metrik yang setara atau bahkan seringnya lebih tinggi dibandingkan apresiasi positif. 

Skandal Sebagai Aset Digital (Kasus Jule)

Coba kita ambil contoh kasus Jule yang disebut kreator TikTok tadi. Ketika Jule mendapat sorotan tajam publik, dan kemudian diundang live streaming oleh YouTuber Bigmo, apa yang terjadi? Apakah collab nya itu hancur karena "di-cancel"? Nggak sama sekali.  

Kolaborasi itu justru memicu lonjakan interaksi yang luar biasa dari warganet. Momen kemarahan publik yang seharusnya menjadi sanksi sosial malah sukses dikonversi menjadi aset digital yang bernilai ekonomis. Di titik ini, kontroversi bukan lagi ancaman, melainkan dieksploitasi jadi peluang emas untuk mendongkrak engagement.

Kita (Audiens) yang Emang Haus Drama

Ini bagian yang bikin kita harus tampar diri sendiri (jangan secara fisik...). Di dunia komunikasi, ada yang namanya Teori Kegunaan dan Gratifikasi. Intinya begini, kita sebagai penonton itu secara sadar emang nyari tontonan yang ngasih sensasi dan hiburan. Media tahu betul kalau audiens butuh "drama".

Makanya, siklusnya selalu ketebak : bikin masalah ➔ dihujat massal ➔ bikin video klarifikasi sambil playing victim (merasa jadi korban bullying) ➔ keliling podcast sana-sini. Publik makan kontennya mentah-mentah demi memuaskan rasa ingin tahu. Ini tuh simbiosis mutualisme antara pembuat masalah, media yang ngasih panggung, dan jempol kita yang gatal pengen komen.

Jadi, kesimpulannya?

Cancel culture di Indonesia itu memang udah kehilangan esensinya sebagai alat kontrol sosial. Praktik ini udah bergeser jauh jadi sekadar instrumen panjat sosial buat meraup popularitas instan di tengah kegaduhan.  

Menyalahkan beauty privilege itu gampang. Tapi, selama kita masih suka ngasih panggung lewat komentar (walaupun isinya makian) dan algoritma masih menganggap hujatan kita sebagai traffic yang mahal, maka cancel culture figur publik di negeri ini cuma bakal jadi angan-angan.

P.S.

Satu lagi deh, ini agak mengganjal di pikiran aku, kalau memang argumen kreator TikTok itu benar—kalau Jule gagal di-cancel gara-gara dia cantik—apakah jutaan orang yang meramaikan kontennya itu murni menonton karena terpesona sama parasnya?

Kenyataannya kan gak begitu. Kalau kita perhatiin, isi kolom komentarnya justru lebih banyak dipenuhi makian, sindiran, dan sumpah serapah. Alih-alih dipuja, wajahnya yang katanya jadi "penyelamat" itu malah rame-rame dijadiin meme sama netizen.  

Jujur aja, buat aku pribadi, secantik apa pun seseorang, ketika perilakunya sudah terbukti bermasalah, filter kecantikannya otomatis luntur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Winaya

Goresan Pertama

Sisi Lain dari Orang yang Meninggalkan