Lost in Translation
Lucu rasanya. Di era di mana 'menghubungi' semudah satu ketukan jari, ternyata masih banyak dari kita yang tersesat dalam keheningan. Bukan karena kita tidak tahu caranya, melainkan karena asumsi dan gengsi sering kali lebih dulu memakan habis keberanian kita.
Kita memilih diam, padahal hati ingin sekali menjadi pendengar setia bagi rutinitasnya. Kita ingin mendengar suaranya setiap hari, menanyakan hal-hal kecil yang luput dari perhatian dunia, Bagaimana harinya berjalan? Apakah tidurnya nyenyak semalam? Atau, apakah ia bisa menangkap materi kuliahnya dengan baik? Sayangnya, semua pertanyaan itu hanya berakhir menjadi gema di kepala sendiri. Karena bagaimanapun, Informasi tidak akan sampai tanpa komunikasi.
Namun, ketika lisan terkunci, naluri kita sering kali mencari jalan tikus untuk mendapatkan informasi. Kita berubah menjadi penafsir ulung atas setiap unggahan di media sosialnya, atau mencoba memecahkan sandi lewat bahasa mata saat tak sengaja berpapasan.
Konon katanya, mata tak bisa berdusta, ia adalah jendela jiwa yang paling jujur. Kita menatap lekat-lekat, berharap menemukan terjemahan rasa di balik sorot singkat itu. Namun, di sinilah letak kenaifan kita. Kita mendamba tatapannya, tapi saat ia benar-benar membalas menatap, nyali kita justru menciut. Kita berpaling, tak kuasa menahan pesonanya yang terlalu terang.
Lantas, apakah dalam tiga detik yang canggung itu pesan berhasil tersampaikan? Entahlah. Jika kalian bisa menangkapnya, kalian hebat. Namun bagiku, yang tertinggal dari tatapan itu bukanlah sebuah pesan, melainkan ribuan kupu-kupu yang mendadak beterbangan rusuh di dalam perut.
Ternyata, berkomunikasi lewat mata bukanlah keahlianku.
Maka dari itu, aku beralih ke metode lain yang bahkan lebih rumit, yaitu menjadi penafsir di setiap postingannya. Ini adalah metode klasik yang diam-diam sering kita lakukan. Kita sibuk menganalisis, atau mungkin... mengarang?
Saat ia memposting sebuah lagu, kita bedah liriknya. Kita paksa menarik benang merah dari postingan acaknya, berharap ada satu simpul yang terhubung dengan kita. Padahal, ini adalah perjudian yang berisiko. Sering kali kita gagal menangkap maksud, atau justru terjebak dalam delusi sendiri. Dan yang paling beresiko adalah lagu-lagu itu, kode-kode itu, mungkin memang bukan ditujukan untuk kita? ouch kena nih.
Pada akhirnya, ternyata tidak ada kurir pesan yang lebih baik daripada lisan yang keluar dari mulut sendiri. Tidak ada kode yang lebih akurat daripada suara yang langsung menyapa.
Selamat dan terima kasih untuk kalian yang berani menyapa.

Komentar
Posting Komentar