Buta dan Tuli
Jatuh suka seharusnya tak pernah menjadi kerumitan yang menyiksa. Bukankah esensi dari sebuah ketertarikan adalah keriangan yang mendadak memenuhi rongga dada? Membedah setiap isyarat dan menerka-nerka maknanya mungkin hanya akan merusak keindahan dari perasaan itu sendiri.
Sekarang, lensa pandang hanya akan aku fokuskan pada bingkai-bingkai yang menerbitkan senyuman. Atensi sepenuhnya diarahkan pada percakapan ringan yang mengalir, tawa lepas yang mengudara, dan tatapan yang tak sengaja bertemu di tengah riuhnya ruangan. Momen-momen kecil yang berhasil memantik kembang api dalam hati itu akan dikumpulkan dengan rapi, lalu dirayakan keberadaannya secara diam-diam.
Lalu, bagaimana dengan sisanya? Segala tindakan yang berpotensi menghadirkan cemburu, atau kenyataan-kenyataan mengganjal yang mengintai di sudut sana, akan sengaja... ku abaikan. Menjadi buta dan tuli secara sukarela kini menjelma sebagai bentuk pertahanan diri yang membuatku nyaman. Memilih untuk berpura-pura tidak melihat apa yang menyakitkan adalah cara termudah untuk tetap bisa merengkuh kebahagiaan.
Toh, sedari awal, memang tak pernah ada garis kepemilikan yang sah. Tidak ada hak untuk merengek agar perasaan ini dijaga keutuhannya, apalagi menuntut agar sang tuan rumah bertanggung jawab atas segala debar yang tercipta. Menyadari batas realita itu, rasanya terlalu egois jika harus memaksa sebuah alur cerita berjalan sesuai kehendak ku sendiri.
Maka, biarkan saja kepura-puraan ini berlanjut. Berpura-pura tidak tahu-menahu, dan membiarkan hal-hal yang menggores hati menguap begitu saja sebelum sempat merusak suasana.
Setidaknya untuk sementara waktu, biarkan euforia dan rasa riang ini dinikmati seutuhnya, tanpa rentetan kecemasan, tanpa ekspektasi yang memberatkan, dan sama sekali tanpa ketakutan.

Komentar
Posting Komentar