Kalah Telak

Beberapa hari kemarin rasanya seperti perang dingin yang melelahkan. Ada kecanggungan tebal yang menggantung di udara setiap kali kita berada di ruangan yang sama. Langkah sengaja dipercepat, arah pandang sengaja dialihkan ke sembarang arah. Berpura-pura tidak melihat seolah menjadi kesepakatan tak tertulis di antara kita.

Di tengah kecanggungan itu, niat untuk mundur sudah bulat. Mantra untuk membunuh perasaan ini sudah dirapalkan berkali-kali. Pertahanan sudah dibangun setinggi mungkin.

Lalu, hari ini terjadi.

Tanpa aba-aba, jarak yang kemarin terbentang luas tiba-tiba terkikis habis. Entah bagaimana porosnya bergeser, kita mendadak terjebak dalam radius yang terlalu dekat. Tidak ada sapaan yang keluar dari bibir, tapi mata kita bersirobok.

Bukan tatapan sekilas yang buru-buru diputus seperti hari-hari sebelumnya. Ini tatapan yang lama. Sangat lama. Seolah dunia di sekitar kita mendadak sunyi dan waktu lupa cara berdetak.

Di dalam durasi yang entah berapa detik itu, ada ribuan teka-teki yang berteriak minta dipecahkan. Kemarin, bahasa matamu adalah tembok dan jarak. Hari ini, sorot itu seolah menarikku paksa ke dalam gravitasi yang membuat napas tertahan.

Apa maksud dari tatapan lekat itu? Apakah itu sebuah jeda dari kecanggungan kita? Apakah itu caramu meminta penjelasan tanpa suara? Atau, jangan-jangan, itu hanyalah tatapan kosong tanpa arti yang lagi-lagi salah kuterjemahkan karena aku terlalu naif?

Kamu benar-benar teka-teki yang tidak bisa ditebak. Sosok yang membuatku lelah, namun ironisnya, selalu berhasil menahan langkahku untuk benar-benar pergi.

Baru saja aku bertekad untuk menutup buku dan mengunci pintu rapat-rapat. Namun sungguh menyebalkan, hanya dengan satu tatapan hening dalam jarak dekat, kau berhasil mengacaukan kembali isi kepala ini. Tembok pertahanan yang dibangun susah payah selama berhari-hari, runtuh tak bersisa hanya karena sepasang mata.

Matilah aku, dan perasaan yang ternyata belum benar-benar mati ini.

Komentar

  1. Terkadang dua orang saling menatap bukan karena ada jawaban, tetapi karena keduanya sama-sama belum selesai dengan perasaannya. Maka nikmatilah rasanya sampai perasaan itu benar-benar hilang dengan sendirinya, ntah dengan orang baru atau sendiri juga menyenangkan rasanya, asalkan tau cara menikmatinya. Terlepas dari apapun yang terjadi hari-harimu selalu menyenangkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Winaya

Goresan Pertama

Sisi Lain dari Orang yang Meninggalkan