Di mata dunia yang bising ini, aku sering kali hanya menjadi peran pendukung. Sosok yang dilabeli pendiam, pemalu, atau si kaku yang lingkup pertemanannya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Bagi mereka yang hanya melihat sekilas dari kejauhan, mungkin aku terlihat anti-sosial dan tidak asik diajak bicara. Aku tidak akan menyangkal atau menyalahkan asumsi itu. Mungkin mereka ada benarnya? Namun yang mereka tidak tahu, tembok itu ada bukan untuk mengurungku, tapi untuk menyaring siapa yang layak masuk. Aku bukan tidak bisa berteman. Aku hanya paham bahwa energiku terbatas. Bagiku, pertemanan bukanlah tentang kuantitas sorak-sorai, melainkan tentang kualitas kehadiran. Aku memilih dengan hati-hati siapa yang boleh duduk di ruang tamuku, karena tidak semua orang layak mendapatkan gelar 'teman' dariku. Namun, ketika seseorang sudah berhasil mendapatkan ' gelar' itu dariku, aku pastikan satu hal, aku akan selalu ada. Aku akan menjadi penjamu paling setia setiap kali ia ...